JOGJAGRID.COM : Industri penyelenggaraan acara (event) tidak hanya menuntut eksekusi teknis yang matang, tetapi juga kesiapan mental dan pola komunikasi yang kuat di balik layar. Merespons tantangan tersebut, GM Production Indonesia menggelar talkshow dan sharing session bertajuk “Behind the Event: Pressure, Emotion, & Communication” di Ruang Avantis, Kantor GM Production Indonesia, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00 hingga 12.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 45 peserta yang terdiri dari karyawan internal GM Production Indonesia serta para freelance event enthusiast dari wilayah Yogyakarta. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia dalam menghadapi dinamika kerja industri event yang sarat akan tekanan dan tenggat waktu ketat.
Dalam acara tersebut, Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, Dhyka Vasminingtya, S.I.Kom., menekankan pentingnya fleksibilitas alur komunikasi serta kejelasan pembagian tugas (scope of work) dalam tim. Ia menyebutkan bahwa sistem komunikasi yang terlampau kaku justru berpotensi menggagalkan koordinasi saat krisis terjadi di lapangan.
“Dalam situasi krisis, komunikasi hierarkis yang terlalu kaku dapat memicu distorsi, penumpukan informasi atau bottleneck, hingga berujung pada kegagalan koordinasi yang fatal. Dalam dunia event yang sangat dinamis, komunikasi tidak cukup hanya berjalan dari atas ke bawah. Setiap orang perlu memiliki ruang untuk menyampaikan informasi, memberikan feedback, dan mengambil tindakan sesuai kewenangannya. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah event bukan hanya tentang siapa yang memimpin, tetapi bagaimana seluruh tim mampu berkomunikasi dan bergerak sebagai satu kesatuan,” ujar Dhyka.
Dari sudut pandang medis, Psikiater dari Rumah Sakit Universitas Airlangga, dr. Sheila Maryam Gautama, Sp.KJ, menggarisbawahi perlunya self-awareness atau kesadaran diri terhadap kondisi emosional bagi para pekerja event. Menurutnya, kemampuan mengenali batas kelelahan fisik dan emosional menjadi kunci utama agar tekanan kerja tidak berdampak buruk pada kesehatan mental jangka panjang.
“Dalam dunia event yang memiliki pressure tinggi dan perubahan yang dinamis, diperlukan kondisi psikologis yang sehat, kemampuan mengenali batas diri, serta kesadaran untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi emosional. Menjaga kesehatan mental bukan berarti mengurangi profesionalitas, tetapi justru menjadi bagian dari upaya menjaga fokus, produktivitas, dan keberlanjutan karier,” jelas dr. Sheila.
Melalui agenda diskusi ini, GM Production Indonesia berkomitmen untuk terus mendorong terbentuknya ekosistem kerja yang profesional secara teknis sekaligus tangguh secara emosional. Melalui pemahaman mendalam terkait manajemen stres dan komunikasi efektif, para praktisi event diharapkan dapat tampil lebih adaptif dalam merespons kompleksitas industri di masa depan.
