JOGJAGRID.COM — Panggung mode tanah air kembali diguncang oleh kreativitas perancang dan peraga busana muda dalam gelaran Jogja International Kids & Teen Fashion Parade (JIKFP) 2026. Berlangsung selama dua hari, 7–8 November 2026 di Sleman City Hall, Yogyakarta, agenda tahunan yang digagas ASMAT PRO Group bekerja sama dengan Sleman City Hall serta didukung Elgan by Nyudi ini mengusung tajuk utama LUCE di MODA. Tema yang merepresentasikannya sebagai perayaan "cahaya dalam mode" tersebut dijadikan fondasi utama untuk memberikan ruang tumbuh, mengasah rasa percaya diri, dan menampung karakter unik generasi muda.
Penyelenggaraan JIKFP 2026 menyedot perhatian publik berkat partisipasi skala masif, yakni melibatkan tak kurang dari 50 desainer busana serta lebih dari 600 model anak dan remaja. Para peserta tidak hanya datang dari berbagai penjuru wilayah Nusantara, melainkan juga menembus batas mancanegara seperti Timor Leste dan Malaysia. Direktur ASMAT PRO Group sekaligus bertindak sebagai Show Director, Nyudi Dwijo Susilo, memaparkan bahwa eksistensi panggung ini disiapkan secara matang melalui pembagian enam sesi peragaan busana.
"JIKFP 2026 akan melibatkan 50 fashion desainer dan lebih dari 600 model anak serta remaja dari berbagai daerah di Indonesia, Timor Leste, dan Malaysia," jelas Nyudi saat menerangkan skala acara. Ia menekankan bahwa misi utama dari pagelaran ini adalah memberikan pengalaman langsung yang berkesan bagi anak-anak di kancah profesional. "Melalui panggung ini, JIKFP ingin memberikan pengalaman bagi generasi muda untuk lebih percaya diri dalam berekspresi sekaligus mengenal dunia fashion," imbuhnya. Ia juga menaruh harapan besar agar arena ini menjadi katalisator pertumbuhan industri fesyen anak, seraya menambahkan, "Acara ini diharap bisa menjadi bagian dari pertumbuhan industri fashion anak dan remaja sekaligus mempertemukan desainer, model, dan pelaku industri dalam satu panggung kreatif." Eksekusi pertunjukan di balik panggung turut dikawal oleh Yoshua Eric selaku Koreografer, Nandzino sebagai Music Director, serta ASMAT PRO Fashion Team yang mengurusi tata kelola pertunjukan, di samping siaran daring di YouTube ASMAT Pro Channel bagi penonton umum.
Kehadiran delegasi Timor Leste menjadi salah satu sorotan penting dalam ajang pertukaran budaya ini. Dokter umum asal Dili yang mengelola Uci Collection Model Management, Dr. Rusli Binali, memboyong kekayaan kain tai—kain tenun tradisional Timor Leste—untuk diperkenalkan ke publik Yogyakarta. Mengambil motif khas Merpedail (motif buaya) yang berakar dari cerita legenda masyarakat enklave Oecusse, Dr. Rusli mengemas olah benang tradisional tersebut ke dalam gaya ready to wear agar fleksibel dikenakan generasi Gen Z.
"Tai dari Timor Leste itu beda, karena setiap tai punya cerita. Setiap tai yang kita punya, yang ditenun dan dibuat oleh para wanita Timor Leste, setiap benang dan karya itu ada ceritanya," papar Dr. Rusli mendeskripsikan kedalaman makna tiap helai kainnya. Sebagai seorang tenaga medis yang juga mencintai seni mode, ia menginginkan agar kain adat tidak lagi terkesan kaku atau hanya untuk agenda ritual semata. "Jadi, tai itu bisa dibawa ke suasana apapun: kerja, nongkrong, acara kenegaraan, dan acara-acara lainnya," cetusnya optimis. Langkah Uci Collection tersebut turut dibalut dalam kolaborasi lintas negara yang menggandeng akademisi Ethnic Timor serta desainer asal Indonesia, Aurel.
Dimensi keindahan tenun Timor Leste di atas catwalk kian terpancar sewaktu dibawakan oleh model kenamaan Timor Leste, Zahra Kirana Muhammad Balafif. Berbalut busana dengan potongan utuh tanpa sambungan dan aksentuasi motif nais di bagian tengah, Zahra berhasil memukau para pengunjung yang hadir.
"Ini benar-benar kain utuh yang dibuat dan didesain sendiri oleh Uci Collection. Busana ini sebenarnya bisa dipakai untuk keseharian, tetapi juga sangat cocok dijadikan pilihan busana formal saat mendatangi acara-acara tertentu atau pertemuan penting karena motifnya yang sangat elegan," tutur Zahra selepas merampungkan peragaannya. Mengusung misi diplomatik budaya, ia merasa bangga dapat memperkenalkan warisan tanah airnya. "Saya sangat bangga sekali berada di acara kali ini, karena saya merasa sedang membawa nama negara saya sendiri ke negara orang. Masih banyak yang perlu digali. Sebenarnya kita masih butuh ruang lebih banyak untuk menunjukkan fesyen Timor Leste yang asli," tegasnya.
Di sudut peragaan lain, nuansa ceria terpancar kuat lewat kejutan koleksi dari Sion, founder brand Bajuku KLAMBI asal Klaten, Jawa Tengah. Sosok yang akrab disapa Mas Jun dan berkiprah sebagai perancang sejak 2012 ini membawakan sebanyak 51 desain yang terbagi dalam lima kategori: Gaun Putra Putri Klambi, Gaun Mr. & Miss Klambi, Karnaval, Wasrabati, serta Full Color. Sion menceritakan bahwa minatnya di bidang mode diasah dari pendidikan formal menjahit dan desain yang ia tempuh sejak awal.
"Lebih ke mengambil sekolah desainer sama sekolah menjahit ya. Jadi memang sudah sejak dulu ada passion-nya," tutur Sion. Khusus pada sesi busana Full Color, Sion mengaplikasikan spektrum warna-warni pelangi guna menyesuaikan dengan jiwa anak-anak yang memperagakannya. "Ini kan karena membawa anak-anak. Jadi, anak-anak itu lebih ke ceria, ceria, terus bahagia. Makanya ambil warna-warna yang seperti pelangi, menggambarkan generasi anak-anak yang selalu ceria," tandas Sion mengenai filosofi rancangannya.
