JOGJAGRID.COM : Ketangguhan pelaku usaha kerajinan lokal dalam membaca peluang dan mengelola risiko bisnis menjadi kunci utama untuk bertahan di tengah ketatnya persaingan pasar digital nasional. Hal ini dibuktikan oleh Slamet Riyadi, pemilik brand Griya Handicraft asal Padukuhan Karang Kulon, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Melalui lapak digitalnya di platform Shopee, perajin sekaligus Shopee Seller ini sukses menerapkan strategi keunggulan produk langsung dari produsen (first-hand manufacturer) untuk meredam dominasi para reseller tiruan.
Langkah taktis ini terbukti berhasil membawa produk kotak pengorganisasi premium atau box organizer buatannya merambah pasar nasional secara masif, dengan tingkat pemesanan yang sangat tinggi dari luar Pulau Jawa.
Langkah Slamet untuk terjun ke industri ini didasari oleh pengalaman matang sejak tahun 2008 saat dirinya bekerja sebagai buruh perajin kotak berlapis kulit asli di kawasan Kotagede, Yogyakarta.
Setelah menguasai seluruh rantai produksi dari nol hingga tahap penyelesaian akhir (finishing), bapak dua anak berusia 45 tahun ini memilih mandiri pada tahun 2014. Bermodal awal yang sangat terbatas yaitu 350 ribu rupiah, Slamet mengawali bisnisnya dengan membuat 8 unit produk pertama secara manual mengandalkan desain sendiri agar terhindar dari plagiarisme.
"Modal awalnya itu Rp350 ribu. Jadi sekitar delapan barang saat itu, karena juga di saat itu kan harga bahan masih relatif terjangkau," tutur Slamet Riyadi mengenang masa-masa awal merintis usaha dari nol.
Slamet pertama kali mendaftarkan tokonya di e-commerce Shopee pada tahun 2015, namun saat itu ia belum menggarap pasar online secara serius. Operasional toko digitalnya sempat terbengkalai karena ia mengoperasikannya secara otodidak tanpa pengetahuan teknis yang memadai, sehingga ia memilih fokus menjadi pemasok utama bagi para reseller offline di area Yogyakarta dan Jawa Tengah.
"Waktu 2015 itu buka Shopee cuma modal otodidak. Pengetahuan kurang, tidak tahu apa itu optimasi foto, judul, atau kata kunci. Jadi ya tokonya terbengkalai, cuma laku satu-dua barang, karena kami memang tidak fokus ke sana," aku Slamet mengenai kendala digitalisasi yang dialaminya di masa lalu.
Hantaman pandemi Covid-19 pada kurun waktu 2019 hingga 2020 menjadi momentum krusial yang memaksa Griya Handicraft melakukan manajemen risiko secara total. Akibat matinya sektor pariwisata Yogyakarta dan dialihkannya seluruh anggaran suvenir instansi pemerintah untuk penanganan kesehatan, pesanan dari para reseller mitra Slamet langsung mandek total. Menghadapi situasi darurat ini, Slamet mengambil langkah berani pada tahun 2021 dengan berinvestasi mengikuti berbagai kelas pelatihan optimasi toko daring demi mengalihkan 100 persen fokus bisnisnya ke platform Shopee.
Transformasi ini membuahkan hasil instan melalui perbaikan konsep foto, riset kata kunci, dan manajemen periklanan yang terukur. Dalam 2 bulan pertama, performa tokonya langsung menyabet predikat Star Seller dan terus meroket hingga meraih predikat Star Plus dalam waktu 6 bulan berikutnya.
"Shopee sangat membantu kami, terutama karena transparansi datanya jelas, baik untuk iklan, campaign, hingga urusan ganti rugi jika ada barang hilang di ekspedisi. Apalagi, promosi yang kita gunakan di Shopee fitur-fiturnya itu ada kayak voucher terus ikut kampanye juga sama iklan tentunya," kata Slamet.
Keberhasilan di ranah digital ini memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi masyarakat sekitar yang menjadi tim kerjanya sejak tahun 2015. Saat ini, rumah produksi Griya Handicraft diperkuat oleh 6 orang di bagian pengepakan barang, 6 orang di bagian penjahitan, serta 1 hingga 2 orang untuk tim media termasuk Slamet sendiri. Tidak hanya itu, Slamet juga berhasil melahirkan 3 orang mitra mandiri baru yang merupakan mantan karyawannya sendiri yang kini dipercaya ikut menyuplai barang setelah kuantitas dan kualitas produksinya setara.
"Dulu kerja tempat saya, terus sudah sesuai kualitasnya sudah sama, kuantitasnya per minggu sudah mencukupi, akhirnya saya lepas tapi tetap sebagai mitra saya. Kalau tim saya semuanya dari warga sekitar," ujar Slamet.
Dalam memenangkan persaingan melawan gempuran kompetitor tiruan di Shopee yang marak sejak tahun 2015, Slamet menerapkan strategi kontrol kualitas yang sangat ketat menggunakan bahan baku Grade A. Struktur dasar produk tempat kosmetik dan tempat perhiasan miliknya dibangun dari karton bot tebal laminasi kuning serta kayu lapis, kemudian dibungkus kulit sintetis premium agar tidak mudah sobek dan dilapisi kain beludru atau kain spoon bone halus di bagian dalam.
"Kami pakai Grade A agar awet, tidak mudah sobek, dan warnanya tidak pudar. Istri saya sering beli tas yang 3-4 bulan kulitnya sudah mengelupas sendiri, nah saya tidak mau produk saya seperti itu. Konsumen tidak akan kembali kalau kualitasnya asal-asalan," tegas Slamet.
Saat ini, lini produk terlaris (best seller) di toko daring mereka didominasi oleh Beauty Case Makeup ukuran L dan M yang dijual pada kisaran harga 150.000 rupiah hingga 180.000 rupiah. Varian tertinggi yang dilengkapi fasilitas lampu LED tiga warna serta sekat kuas kosmetik dibanderol seharga 340.000 rupiah, dengan nilai Harga Pokok Produksi atau HPP berada di angka 75.000 rupiah hingga 90.000 rupiah per unit tergantung motif. Sebanyak 80 persen penjualan disokong oleh produk stok reguler, sementara 20 persen sisanya dipenuhi melalui layanan sistem produk custom pre-order atau PO selama 2 hingga 3 minggu bagi sesama pemilik toko online lain yang ingin menyematkan inisial brand mereka sendiri.
"Di Shopee ada juga yang bisa PO kan, nah itu biasanya yang sesuai kebutuhan. Misalnya dia custom ukuran, custom model itu bisa, kemudian kita diskusikan dengan tim, kemudian kita kerjakan," tutur Slamet.
Optimalisasi lapak online di Shopee mendorong kapasitas produksi Griya Handicraft meningkat tajam, di mana alat semprot cat kecil dan mesin jahit rumahan telah digantikan oleh mesin produksi berskala besar. Dalam waktu satu minggu, mereka mampu memproduksi 400 hingga 500 unit barang dengan volume pengiriman reguler berkisar antara 225 hingga 280 resi per minggu. Pengiriman harian konsisten berada di angka 40 hingga 50 paket pada hari biasa dan akan melonjak tajam hingga 80 sampai 110 paket per hari pada momen pasca-Lebaran serta saat pelaksanaan kampanye tanggal kembar Shopee, meskipun tren penjualan biasanya akan melandai di pertengahan bulan antara tanggal 15 sampai 22 serta selama bulan Ramadan akibat bergesernya konsumsi masyarakat ke komoditas fesyen.
Hingga kini, penetrasi pasar digital produk asal Imogiri ini telah menjangkau skala nasional dengan 70 persen total pembeli berada di luar Pulau Jawa, seperti wilayah Sumatera, Kalimantan yang dikenal sebagai daerah penghasil emas, wilayah Aceh di ujung barat, hingga wilayah Papua di ujung timur Indonesia. Slamet menegaskan tidak gentar menghadapi kompetitor sejenis karena statusnya sebagai produsen langsung membuat produknya lebih kompetitif dari segi harga dibandingkan pihak reseller. Baginya, tantangan terbesar di ekosistem e-commerce saat ini adalah kecepatan meng-upgrade kapasitas diri dan kejelian melakukan riset pasar secara berkala untuk meluncurkan produk inovatif yang trendi.
Griya Handicraft saat ini tengah bersiap meluncurkan inovasi produk teranyar berupa kotak hibrida khusus penyimpanan logam mulia seperti kartu emas Antam atau UBS, lengkap dengan kompartemen kalung dan cincin dari bahan kain blue glue halus yang dipasang lurus. Guna memperkuat penetrasi pasar digitalnya ke depan, Slamet juga mulai mengadopsi strategi pemasaran modern dengan mengoptimalkan jejaring pembuat konten kreatif melalui fitur afiliasi serta menyiapkan infrastruktur untuk siaran langsung atau live streaming jualan secara mandiri.
"Sekarang promosi juga lewat affiliate karena mereka lebih paham cara bikin konten kreatif. Ke depan, kami akan gandeng rekanan untuk fokus di pembuatan konten dan live streaming jualan," ucap Slamet.
