JOGJAGRID.COM– Komisi D DPRD Kota Yogyakarta kini tengah gencar mengampanyekan gerakan diversifikasi pangan guna menekan tingginya angka ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai sumber karbohidrat utama. Upaya ini dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan pangan lokal non-beras yang melimpah di wilayah Yogyakarta namun belum terkelola secara maksimal.
Ketua Komisi D DPRD Kota Yogyakarta, Darini S.IP, menyatakan bahwa pemberian edukasi mengenai keragaman sumber pangan merupakan langkah krusial yang tidak hanya menyasar pada kedaulatan pangan, tetapi juga peningkatan kualitas kesehatan publik secara jangka panjang.
Darini menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif bahwa pilihan sumber energi bagi tubuh sangat beragam, mulai dari kentang, telo atau singkong, hingga berbagai jenis umbi-umbian lainnya.
"Kita ingin menularkan kesadaran bahwa sumber pangan kita itu sangat banyak. Ada kentang, telo (singkong/ubi), dan berbagai umbi-umbian lainnya yang belum dimanfaatkan optimal," ujar Darini saat menghadiri acara Lomba Memasak Sehat di kawasan Penembahan, Kraton, pada Sabtu (9/5).
Politisi perempuan dari fraksi PDI Perjuangan tersebut mengakui bahwa tantangan tersulit terletak pada budaya masyarakat yang memiliki prinsip belum kenyang jika belum mengonsumsi nasi.
Melalui inovasi pengolahan menu berbasis kearifan lokal, DPRD berharap pola pikir yang sudah mendarah daging tersebut dapat perlahan bergeser ke arah yang lebih sehat.
Darini berpendapat bahwa pembiasaan mengonsumsi pangan alami dan beragam merupakan solusi strategis untuk menghadapi tren penyakit tidak menular yang belakangan ini meningkat sekaligus memperkuat imunitas masyarakat Yogyakarta.
"Pola pikir inilah yang ingin kita geser. Jika dibiasakan, sumber pangan seperti kentang atau telo ini tidak hanya mengenyangkan, tapi juga enak dan kaya gizi," sambung Darini dalam penjelasannya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, turut mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta untuk memberikan perhatian lebih serius terhadap sektor pertanian perkotaan atau urban farming. Mengingat kondisi geografis kota yang memiliki keterbatasan lahan sawah, penggunaan teknologi tepat guna dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga kedaulatan pangan di wilayah perkotaan.
Eko yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta menegaskan perlunya dukungan anggaran dan pelibatan para ahli dalam fasilitasi tersebut. "Pemkot harus memfasilitasi aktivitas pertanian perkotaan dengan teknologi canggih atau tepat guna. Tentu ini harus didukung dengan anggaran yang memadai serta pelibatan para ahli," tegas Eko Suwanto.
Kegiatan lomba yang diikuti oleh kaum perempuan dari Kemantren Kraton ini pun menampilkan berbagai kreasi olahan kreatif seperti tiwul modern dan sajian unik dari umbi-umbian. Keterlibatan ibu-ibu dinilai sangat strategis dalam gerakan ini karena peran sentral mereka sebagai manajer konsumsi yang menentukan standar gizi serta pola makan di lingkungan keluarga.
Dengan adanya dukungan dari jajaran legislatif dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan ketergantungan pada nasi dapat terpangkas seiring dengan munculnya kemandirian pangan berbasis potensi lokal.
