Delegasi WCI Biennial Conference Kunjungi Pura Pakualaman: Menikmati Wujud Karya Seni dan Budaya yang Tetap Lestari
Delegasi WCI Biennial Conference Kunjungi Pura Pakualaman: Menikmati Wujud Karya Seni dan Budaya yang Tetap Lestari

Delegasi WCI Biennial Conference Kunjungi Pura Pakualaman: Menikmati Wujud Karya Seni dan Budaya yang Tetap Lestari

JOGJAGRID.COM - Pemandangan tak biasa hadir di Kompleks Pura Pakualaman Yogyakarta, Kamis (30/4) sore. Sekitar 100 delegasi Welcome Clubs International (WCI) Biennial Conference dari belasan klub perempuan internasional dari mancanegara mengunjungi dan melihat bukti nyata pelestarian budaya di Pura Pakualaman.

Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian konferensi internasional yang tahun ini diselenggarakan dengan Women’s International Club (WIC) Jakarta sebagai tuan rumah. Dan Kota Jogja menjadi salah satu destinasi yang dikunjungi.

Kunjungan ke Yogyakarta terutama ke Pura Pakualaman ini, menurut Ketua WCI Biennial Conference, Dr. Nina Handoko, juga dirancang sebagai ruang pertukaran budaya dan diplomasi. Kegiatan ini menegaskan jika rangkaian konferensi tidak semata sebagai forum pertemuan antaranggota klub perempuan internasional saja.

“Bagaimana woman empowerment tetap mengapresasi culture heritage dan pendidikan bisa memberdayakan semua perempuan,” jelasnya, Kamis (30/4).

Setelah mengikuti berbagai agenda di Jakarta, kunjungan ke Pura Pakualaman berperan sebagai pelengkap dalam menghadirkan kontras yang bermakna setelah para delegasi mengalami dinamika Jakarta sebagai kota metropolitan.

“Tujuan utama konferensi ini adalah untuk membangun spirit kebersamaan antara para wanita dari berbagai belahan dunia. Sekaligus menggerakan bagaiman kita bisa berkontribusi dibidang women empowerment sembari memberi kembali untuk komunitas masing-masing” sambung Dr. Nina Handoko.

Kunjungan di Pura Pakualaman menjadi penutup dari rangkaian agenda budaya utama dalam konferensi yang mengangkat tema ‘Bridging Traditions and Transformations: Empowering Women through Education and Cultural Heritage in a Changing World’ ini.

Para delegasi sudah diajak menikmati potret kebudayaan di Jogja sedari berangkat. Mereka menaiki andong melewati kawasan Malioboro, Titik Nol Kilometer Jogja, sebelum akhirnya tiba di Pura Pakualaman. Total 30 andong mengantar para delegasi menuju Pura Pakualaman.

“Kunjungan ke Pura Pakulaman ini menjadi penutup dari rangkaian acara yang ada di Jakarta dan Jogja,” terang Tari Arsita, ketua WIC jakarta.

Kedatangan para delegasi disambut hangat oleh permaisuri Adipati Pakualaman ke-10, KGPAA Paku Alam X, yakni Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAA) Paku Alam atau akrab disapa Gusti Putri. Suasana hangat langsung menyerebak dengan obrolan kecil antara Gusti Putri dan para delegasi.

Gusti Putri sendiri dikenal dengan kegiatan pelestarian warisan karya seni, budaya, dan tradisi melalui medium batik. Gusti Putri menjadi cerminan peran penting perempuan bukan hanya sebagai identitas budaya, namun juga sebagai sumber pengetahuan, penguatan ekonomi, serta pemberdayaan komunitas.

“Kemudian apa yang kita lakukan dengan dukungan Gusti Putri di Pakualaman, beliau ingin menunjukan bagaimana peranan perempuan dalam mengembangkan warisan budaya melalui batik. Dengan memberikan inovasi karya-karya, motif-motif yang dari dulu ada, dikembangkan oleh Gusti Putri. Jadi pengembangan dari motif yang lama, untuk kemudian menghadapi situasi dunia yang berkembang tetap bisa eksis,” ujar Tari.

Para delegasi kemudian diajak mengikuti short tour menikmati keindahan istana Pura Pakualaman yang terkenal dengan arsitektur Jawa-Eropa. Bangsal Sewatama, Gedhong Parakarsa, hingga Gedhong Purwaretna sukses menyita perhatian para delegasi.

“Karena kita ingin mengenal budaya, yang dikembangkan dalam WCI ini adalah aspek budaya dari berbagai negara. Jadi bisa relevan dengan tema kita,” ungkap Ketua Program WCI Biennial Conference di Yogyakarta, Danie Prakosa.

Setelah puas berkeliling dan berfoto di kompleks istana, para delegasi kemudian diajak bergeser ke Dalem Kepatihan Pakualaman untuk menikmati royal dinner. Di sana, para delegasi lagi-lagi disuguhi keindahan karya batik Pakualaman termasuk karya batik tulis dari Gusti Putri.
Advertisement banner

Baca juga:

Admin
Silakan ikuti kami di media sosial berikut.