-->
Awalnya Mencari Cacing Dan Asongan, Pendiri Jamu Jago Ayam Jago Mbah Joyo Nikmati Sukses
Awalnya Mencari Cacing Dan Asongan, Pendiri Jamu Jago Ayam Jago Mbah Joyo Nikmati Sukses

Awalnya Mencari Cacing Dan Asongan, Pendiri Jamu Jago Ayam Jago Mbah Joyo Nikmati Sukses

 


JOGJAGRID.COM: Nasib seseorang memang bagai roda berputar. Terkadang, orang yang sekarang menikmati kejayaan bisa saja sengsara di haru kemudian. Sebaliknya, orang yang saat ini dipandang sebelah mata bisa saja menjadi orang tenar di kemudian hari.

Sukses itu juga bukan nasib yang bisa kamu dapatkan secara instan. Harus ada perjuangan yang perlu dilakukan jika ingin mencapai kesuksesan itu sendiri. Selain itu, karakter yang kamu punya juga bakal menentukan apakah kamu bisa mencicipi kesuksesan atau tidak.

Nah di Yogya, khususnya dari Kabupaten Bantul, ada kisah menarik tentang Sutrajaya yang merupakan pemilik dan pembuat Jamu Ayam Jago ‘Mbah Joyo’ yang terkenal di seluruh penjuru tanah air.

Mbah Joyo mengawali bisnisnya dari nol. Bahkan sebelum menggeluti jamu untuk ayam, dirinya pernah berjualan asongan.

Sutrajaya yang juga akrab dipanggil Mas Joyo ini mengatakan sempat mencari cacing dengan menyusuri sungai. Cacing tersebut kemudian dijualnya ke warung-warung yang menyediakan pakan ternak. “Dulu juga sempat jualan koran, TTS,” katanya, di kediamannya daerah Tamanan, Banguntapan, Bantul, pada Jumat (4/12).



Joyo mengatakan, sejak lama memang dirinya gemar memelihara ayam jago. Ia kemudian mencoba untuk membuat jamu untuk dikonsumsi ayam jago peliharaannya. “Awalnya memproduksi jamu untuk ayam jago saya sendiri,” katanya. 

Jamu untuk ayam jago miliknya itu kemudian ditawarkannya kepada pelanggan cacing sungainya. Karena respon yang cukup baik, ia kemudian mengembangkan pemasaran dalam penjualan jamunya ini. 

“Saya coba mobilisasi ke luar Yogyakarta, seperti ke Solo. Dulu saya pakai motor dan kronjot (keranjang motor),” katanya.

Jamu Mbah Joyo akhirnya semakin banyak dikenal meluas. Modalnya untuk membeli bahan baku, mulai meningkat. Dari Rp30 ribu, menjadi Rp50 ribu, lalu Rp500 ribu dan sampai saat ini bisa mencapai Rp10 juta untuk setiap produksi. “Itu hanya untuk bahan baku saja. Bahkan ada sebagian bahan yang import,” ucapnya.

Joyo mengatakan,  memutuskan untuk membeli bahan baku import yang terkandung dalam Jamu Mbah Joyo ini awalnya ada masukan dari salah seorang pelanggannya. ”Ada satu konsumen mengatakan, Jamu Mbah Joyo bagus tapi sayang hanya untuk menyehatkan saja. Bukan untuk menambah tenaga,” katanya.

Dari masukan itu, Joyo kemudian mencari cara supaya Jamu Mbah Joyo ini bisa menyehatkan sekaligus memberikan tenaga untuk ayam. Namun tetap semua bahan dari herbal. “Saya campur dengan ramuan-ramuan. Akhirnya banyak bahan yang saya beli. Semuanya herbal, tidak ada satu tetespun dari bahan kimia,” katanya.

Kualitas Jamu Mbah Joyo yang semakin meningkat ini diikuti pula dengan pemasaran yang semakin meluas. Joyo mengatakan, jamu buatannya tersebut sudah dipasarkan di penjuru tanah air.

“Produk saya akhirnya dipasarkan dari Sabang sampai Merauke. Bahkan waktu saya ke Malaysia, banyak orang Malaysia yang punya jamu itu. Thailand, Myanmar juga ada. Jadi ada orang yang menjual ke sana (luar negeri), bukan saya,” katanya.

Setiap produksi, Jamu Ayam Jago Mbah Joyo biasanya membuat sekitar 6 dos yang berisi kisaran 3.600 bungkus jamu. Dalam membuatnya, dirinya saat ini telah dibantu oleh lebih dari 70 tenaga kerja. “Karyawan rata-rata merupakan warga yang tinggal di sekitar pabrik,” kata, Joyo.

Karyawannya terbagi dalam dua divisi, yakni divisi pencetakan dan pengemasan. Untuk pencetakan merupakan tenaga kerja usia lanjut atau orang tua yang tidak punya pekerjaan di rumah. Sedangkan pengemasan, anak muda yang putus sekolah. Seluruh tenaga kerjanya ini pun mendapatkan upah layak, bahkan di atas Upah Minimum Regional (UMR).

“Terkadang kewalahan karena permintaan banyak. Sehingga mau tidak mau tambah tenaga kerja atau lembur. Sebenarnya memang bisa menggunakan mesin untuk menjangkau hasil produksi, tapi saya khawatir ada pengurangan tenaga kerja. Karena saya yakin orang yang kerja di tempat saya itu membutuhkan, apalagi saat ini pandemi,” katanya.

Joyo juga mengatakan, ia pernah merasakan betapa pahitnya hidup susah dan harus mengawali bisnis dari nol. Sehingga saat dirinya diberi rejeki lebih seperti saat ini, ia merasa terketuk untuk bisa bermanfaat kepada orang lain. “Setidaknya bisa membantu orang lain yang juga merasakan nasib seperti yang saya rasakan dulu. Saya terketuk membantu mereka untuk setidaknya meringankan beban,” dia.

Tak hanya memberikan pekerjaan kepada puluhan orang saja. Joyo juga selama ini rutin melakukan kegiatan amal seperti santunan kepada minimal seratus anak yatim di Bantul setiap bulannya. (Sin)

Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Silakan ikuti kami di media sosial berikut.