-->
Pelaku Wisata Yogya Dilarang Perang Harga Saat New Normal, Mengapa?
Pelaku Wisata Yogya Dilarang Perang Harga Saat New Normal, Mengapa?

Pelaku Wisata Yogya Dilarang Perang Harga Saat New Normal, Mengapa?


Obyek Wisata Taman Sari Yogya


JOGJAGRID.COM : Pemerintah DIY menilai sektor pariwisata di era new normal bakal sangat berbeda dengan era sebelum pandemi Covid-19.

Wisata di masa new normal diproyeksikan menekankan level kualitas daripada kualitas.

Resikonya jelas, peningkatan kualitas itu berpotensi menaikkan ongkos pelayanan. Tak seperti sebelum pandemi. Di mana ongkos pelayanan bisa ditekan karena memprioritaskan kuantitas seperti jumlah kunjungan.

“Maka kami minta di masa new normal jangan sampai terjadi perang harga (pelaku sektor wisata)," ujar Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Pemda DIY Tri Saktiyana, Senin 29 Juni 2020.

Pemda DIY menyatakan jangan sampai hanya demi menarik konsumen atau wisatawan sebanyak-banyaknya, pelaku industri wisata di masa normal baru berlomba-lomba menurunkan harga serendah-rendahnya dan berimbas menurunnya kualitas layanan.

Dampak dari pergeseran kuanitas ke kualitas layanan itu, ujar Tri, tentu saja ke depan wajah pariwisata Yogya bukan lagi wisata jenis massal. Tapi lebih selektif.

Pemerintah DI Yogyakarta sendiri telah memutuskan periode 1-31 Juli 2020 menjadi fase bersama ujicoba pembukaan sektor wisata dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Keputusan ini diambil salah satunya untuk mengantisipasi terjadinya angka pengangguran baru akibat periode lama penutupan wisata akibat pandemi Covid-19.

"Di DIY, wisata menjadi nafas bagi perekonomian. Sektor ini mampu menjadi penopang hampir seluruh kegiatan perekonomian, khususnya UMKM," ujar Tri.

Tri menuturkan multiplayer effect sektor pariwisata lebih dari 104 kali. Artinya, setiap penambahan satu miliar pendapatan dari pariwisata, output total ekonomi DIY akan bertambah Rp 104 miliar.

Sehingga jika terjadi penurunan satu miliar di sektor pariwisata saja, maka output total ekonomi turun Rp 104 miliar.

Sedangkan dari sisi ketenagakerjaan, apabila pendapatan sektor pariwisata turun Rp 1 miliar saja, maka akan ada potensi 0,6 % jumlah pengangguran baru. Sebaliknya, apabila pendapatan itu naik Rp 1 miliar, maka akan ada tambahan tenaga kerja baru sebanyak 0,6 %.

“Itulah kenapa kami mempriotitaskan wisata menjadi yang pertama di ujicobakan dan didorong bangkit lagi produktivitasnya, karena memang wisata kunci penggerak perekonomian Yogya,” ujar Tri.

(Win/Sar)

Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Silakan ikuti kami di media sosial berikut.