-->
KIT Hisfarma 2019 Membeludak, 1.512 Peserta Dari 34 Provinsi
KIT Hisfarma 2019 Membeludak, 1.512 Peserta Dari 34 Provinsi

KIT Hisfarma 2019 Membeludak, 1.512 Peserta Dari 34 Provinsi

JOGJAGRID.COM, Yogyakarta:
Hisfarma (Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat) merupakan organisasi profesi di bawah koordinasi IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) yang beranggotakan apoteker yang berpraktek di apotek (komunitas).

Setiap tahun Hisfarma mengadakan Kegiatan Ilmiah Tahunan sebagai sarana pertemuan sejawat apoteker dan mengembangkan kebaruan ilmu pengetahuan farmasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian.

Tahun 2019 adalah kesempatan pertama Hisfarma Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengawal perhelatan akbar yang ditunggu oleh Apoteker komunitas di seluruh Indonesia. KIT Hisfarma dilaksanakan di Sahid Jaya Hotel and Convention Hall tanggal 3 – 5 Oktober 2019.

Antusiame sejawat apoteker sangat menggembirakan yaitu mencapai hampir 1500 peserta yang berasal dari 34 provinsi.

Ingenida Hadning, M.Sc., Apt, Ketua Panitia KIT Hisfarma 2019 berharap kegiatan ini dapat memperbarui informasi mengenai praktik kefarmasian berbasis bukti (evidence – based medicine).

"Seminar ini juga untuk meningkatkan komitmen apoteker dalam mengawal cost – effectiveness dalam terapi pengobatan di komunitas," ujar Ingenida.

Harapan serupa juga dimandatkan oleh Ketua Hisfarma PP IAI (Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia, Drs. Shaleh Rustandi, MM., Apt.

Ia mengharapkan agar apoteker meningkatkan perannya di masyarakat, capaian kinerja apoteker harus terukur dan dapat dibuktikan secara ilmiah, oleh karenanya harus ada kerja sama antara peneliti dan praktisi farmasi.

Ketua Umum PD IAI (Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia), Dr. Nanang Munif Yasin, M.Pharm., Apt. menyatakan bahwa KIT Hisfarma 2019 adalah awal bentuk sinergi dari IAI, Hisfarma dan perguruan tinggi farmasi, yang akan bekerja sama meningkatkan profesionalisme praktik apoteker di masyarakat.

Nanang juga berpesan agar kesuksesan acara KIT HISFARMA 2019 dapat terulang kembali pada dua perhelatan besar yang juga akan dilaksanakan di Yogyakarta yaitu The 5th Asean Young Pharmacist Leadership Summit pada 7 – 10 November 2019 dan PIT HISFARSI 2020 (Pertemuan Ilmiah Tahunan – Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit) tahun 2020 mendatang.

Seminar yang diselenggarakan selama tiga hari menghadirkan para tokoh dan ahli farmasi yang merupakan rujukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan kefarmasian di Indonesia. Hari pertama kegiatan diisi dengan presentasi oleh para peneliti dalam rangka mempublikasikan hasil penulisan jurnal ilmiahnya. Upacara pembukaan rangkaian seminar dilaksanakan pada Jumat pagi, 4 Oktober 2019 menghadirkan Direktur Pelayanan Kefarmasian Kementrian Kesehatan RI sebagai keynote speaker, Dita Novianti Sugandi Argadiredja, S.Si., Apt., MM. Presiden of FAPA Foundation (Federation of Asian Pharmaceutical Association), Joseph Wang, dan Ketua Umum PP IAI (Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia), Drs. Nurul Falah Eddy Pariang, Apt. berkesempatan membuka seminar pertama bertema “The Current Issue of Community Pharmacy Practice”. Keseluruhan rangkaian seminar akan menghadirkan tiga belas orang pembicara internasional dan nasional.

Mengangkat tema Evidence – Based Community Pharmacy Practice: Achieving A Cost – Effective Pharmaceutical Care, KIT HISFARMA mengangkat permasalahan praktik kefarmasian yang dapat meningkatkan efektivitas, keamanan, dan cost – effectiveness dalam terapi. Pemilihan bentuk praktek pelayanan kefarmasian yang menjadi prioritas di apotek maupun di puskesmas, memerlukan alat ukur yang obyektif dalam memberikan gambaran rasio efektivitas dan biaya yang diperlukan. Konsep farmakoekonomi menjadi salah satu konsep yang dapat digunakan untuk membantu pengambil kebijakan, misalnya Kementerian Kesehatan, maupun organisasi profesi, seperti IAI, untuk memberikan prioritas aktivitas pelayanan kefarmasian yang sebaiknya diutamakan oleh sejawat apoteker di komunitas.

Agar dapat memberikan pelayanan kefarmasian yang ideal, implementasi konsep evidence based medicine (pengobatan berbasis bukti ilmiah) merupakan hal yang mutlak. Praktek yang mengkombinasikan: (1) the current and best evidence (bukti ilmiah terbaik dan terbaru), (2) keahlian klinis dari seorang apoteker, serta (3) memberikan kesempatan yang luas kepada pasien untuk menentukan pilihan terapi, merupakan kondisi yang ideal dalam suatu praktek pelayanan kesehatan. Implementasi praktek pelayanan kefarmasian seperti ini merupakan keharusan di era JKN dimana sumber daya untuk melakukan pelayanan kefarmasian, khususnya sumber daya ekonomi, semakin terbatas.

Di era perubahan Paradigma Sakit (llness) menjadi Paradigma Sehat (Wellness), apotek sebagai sarana distribusi legal obat kepada masyarakat diharapkan mengembangkan fungsinya untuk mengelola penyakit ringan (minor ailment). Di masa yang akan datang apotek akan menjadi tempat pertama dalam pengobatan penyakit ringan. Apoteker di apotek akan memberikan nasihat tentang manajemen penyakit ringan yang memerlukan OTC atau obat herbal tradisional (jamu) dan merujuknya ke dokter umum jika diperlukan.

Dalam seminar ini, pembahasan mengenai bagaimana sinergi antara evidence based medicine, jenis pelayanan kefarmasian yang diutamakan dalam praktek farmasi komunitas, dan bagaimana farmakoekonomi dapat menjadi alat ukur praktek tersebut, akan digambarkan secara komprehensif. Oleh karena itu, kerjasama praktisi apotek, Institusi Pendidikan, serta industri farmasi merupakan modal utama di dalam menghadapi era baru Pelayanan Kesehatan di masa yang akan datang. Kegiatan Ilmiah Tahunan Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat Ikatan Apoteker Indonesia 2019 (KIT Hisfarma 2019) merupakan ajang pertemuan bersama untuk merumuskan langkah-langkah ke depan menuju pelayanan kesehatan khususnya Pelayanan Kefarmasian yang lebih efisien dan efektif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik. (Sulaiman Ridho)




Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Silakan ikuti kami di media sosial berikut.