JOGJAGRID.COM : Suara riuh tawa dan obrolan santai tampak memecah keheningan di Kampung Wisata Rejowinangun pada Selasa pagi, 19 Mei.
Puluhan tamu yang berpakaian rapi terlihat sangat menikmati suguhan jamu tradisional langsung dari lapak para perajin lokal di sana. Kehadiran mereka di lokasi tersebut bukan merupakan pelancong biasa, melainkan rombongan anggota DPRD dari berbagai daerah di Indonesia yang tengah melaksanakan agenda kunjungan kerja di Kota Yogyakarta.
Pemandangan ini lahir berkat terobosan baru yang sedang gencar ditelurkan oleh DPRD Kota Yogyakarta bersama Dinas Pariwisata setempat.
Agenda kunjungan kerja luar daerah yang biasanya berjalan monoton dengan duduk formal di dalam ruang rapat komisi atau sekretariat, kini sengaja diubah jalurnya. Para wakil rakyat dari berbagai penjuru daerah tersebut langsung digiring untuk masuk ke jantung kehidupan masyarakat di kampung-kampung wisata.
Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta, Indaruwanto Eko Cahyono memberikan penjelasannya saat ditemui di sela-sela kegiatan menyambut rombongan tamu. Indaruwanto mengatakan bahwa "Ini adalah inovasi baru yang diinisiasi bersama Dinas Pariwisata dan Sekretariat DPRD Kota Yogyakarta." kata dia.
Pria yang akrab disapa Ndaru ini memaparkan bahwa langkah strategis tersebut diambil demi mengikis kejenuhan sekaligus menangkap peluang ekonomi dari tingginya volume kunjungan kerja ke Kota Yogyakarta. Ndaru menegaskan bahwa tujuannya semata-mata untuk masyarakat, dengan cara "Kita hadirkan UMKM, menggali potensi lokal, sekaligus menjadi ajang promosi efektif bagi kampung wisata kita," ungkapnya.
Daya pikat Kota Yogyakarta bagi para pemburu kebijakan dari daerah lain memang tidak pernah surut. Setiap hari kerja, koridor gedung dewan kota hampir tidak pernah sepi dari lalu lalang tamu kedewanan.
Indaruwanto membeberkan bahwa wilayahnya menjadi salah satu destinasi utama. Menurutnya, "Kota Yogyakarta ini salah satu tujuan kunker favorit bagi DPRD se-Indonesia, karena setiap hari pasti ada lebih dari 100 anggota dewan yang datang ke sini."ujarnya.
Lewat kebijakan baru ini, potensi ekonomi yang luar biasa besar tidak lagi dibiarkan menguap begitu saja di dalam ruang rapat ber-AC. Berapa pun jumlah legislator yang terdata masuk melalui aplikasi Sekretariat DPRD, semuanya kini langsung diarahkan menuju kampung wisata, seperti sekitar 200 legislator daerah yang diboyong langsung ke lapangan pada hari itu.
Langkah taktis ini terbukti memicu efek domino ekonomi yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat di tingkat bawah. Omset penjualan UMKM lokal melonjak sangat tajam lewat skema penerimaan tamu yang sebenarnya hanya memakan waktu beberapa jam saja.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, nilai transaksi yang tercipta menunjukkan nominal yang tidak main-main.
Pada uji coba perdana yang diterapkan di Kampung Wisata Mantrijeron, kedatangan sekitar 150 tamu dewan mampu memicu perputaran uang hingga mencapai Rp 11 juta sekian dalam waktu yang sangat singkat.
Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Husni Eko Prabowo membeberkan durasi singkat pencapaian omset tersebut. Husni menjelaskan bahwa pendapatan itu diraih "hanya dalam waktu empat jam saja, dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang saat penerimaan tamu."urainya.
Tren positif ini terus merembet ke sejumlah kampung wisata lainnya di Yogyakarta. Di Sosromenduran, nilai transaksi mampu menyentuh angka Rp 5,6 juta meskipun jumlah tamu yang datang cenderung lebih sedikit yaitu sekitar 100 orang. Sementara itu, aktivitas perdagangan UMKM di Kampung Wisata Purbayan pada pekan lalu sukses menembus nominal Rp 7,5 juta.
Pada tanggal 19 Mei, giliran Kampung Wisata Rejowinangun yang merasakan limpahan berkah dari kebijakan ini. Berbagai macam produk unik mulai dari kuliner hingga kerajinan jamu khas laris manis diborong oleh para legislator yang datang berkunjung, sehingga rata-rata perputaran uang di setiap kampung wisata kini konsisten berada di kisaran Rp 10 juta per empat jam kunjungan.
Walaupun proses persiapan untuk menyambut kedatangan para tamu terhitung sangat mepet dan kilat, besarnya antusiasme dari warga terbukti mampu menyukseskan jalannya acara.
Indaruwanto mengungkapkan hal tersebut sembari tersenyum menyaksikan salah seorang anggota dewan luar daerah memborong suvenir lokal. Beliau memaparkan bahwa "persiapan kami kadang hanya satu hari, tapi UMKM-nya luar biasa antusias."
Program uji coba bergiliran ini untuk sekarang baru mencakup empat kampung wisata di Kota Yogyakarta. Meski begitu, puluhan kampung wisata lain sudah mengantre serta menyatakan kesiapan mereka untuk menerima kedatangan tamu kedewanan berikutnya. Secara keseluruhan, terdapat 45 kampung wisata di Kota Yogyakarta yang terus dikurasi kelayakannya agar standar pelayanan tetap terjaga dengan baik.
Bagi Pemerintah Kota dan DPRD Kota Yogyakarta, program ini bukan sekadar aktivitas berdagang produk UMKM di hadapan tamu kunjungan kerja, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk sektor pariwisata Yogyakarta yang berbasis kemasyarakatan.
Husni mengakhiri penjelasannya dengan menyampaikan harapan besar terkait dampak jangka panjang dari program ini. Harapannya adalah "Setelah mereka pulang ke daerah masing-masing, minimal mereka tahu kalau di Yogyakarta itu ada kampung-kampung wisata yang menarik, sehingga suatu saat nanti mereka pasti akan kembali lagi ke sini membawa keluarga untuk berwisata."
