JOGJAGRID.COM : Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta menerapkan strategi baru dalam pelaksanaan Audisi Paduan Suara Gita Bahana Nusantara DIY 2026 yang resmi dibuka pendaftarannya mulai Jumat, 29 Mei 2026.
Langkah ini diambil sebagai respons atas adanya kendala psikologis berupa rasa kurang percaya diri atau minder yang kerap melanda talenta muda asli daerah akibat regulasi ketat dari pemerintah pusat.
Pemerintah pusat menetapkan syarat mutlak bahwa delegasi yang dikirimkan harus memiliki Kartu Tanda Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tengah status Yogyakarta sebagai kota pelajar yang didominasi oleh mahasiswa pendatang, batasan administrasi wilayah ini menjadi tantangan tersendiri untuk menjaring kepesertaan yang masif dari kalangan anak muda lokal.
Kepala Seksi Seni Pertunjukan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Zita Uttungga Dewi Maharani mengungkapkan latar belakang di balik gencarnya sosialisasi yang dilakukan oleh pihak pemda di Ruang Bima Kantor Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Sebenarnya kalau untuk seleksi GBN itu peminatnya banyak. Tetapi agak mengunci pada saat ada syarat harus KTP DIY. Jadi kalau pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, pada saat ini dibuka menjadi umum, itu pesertanya akan menjadi sangat besar. Tetapi begitu pusat memberikan ketentuan bahwa yang dikirimkan harus ber-KTP DIY, ini yang kadang-kadang membuat kami harus meyakinkan bahwa orang-orang asli DIY ini mampu untuk bersaing. Kadang-kadang mereka sudah minder duluan. Kenapa kami mengadakan sosialisasi ini? Supaya paling tidak info ini bisa sampai ke generasi muda secara lebih beragam lagi, supaya peserta yang mendaftar lebih banyak," tutur Zita pada Jumat, 29 Mei 2026.
Sebagai solusi konkret untuk mengikis rasa minder sekaligus membekali para pendaftar lokal, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta mengumumkan sebuah terobosan baru berupa fasilitas pembekalan teknis secara gratis sebelum hari perlombaan tiba. Seluruh anak muda yang telah mendaftarkan diri secara daring diberikan hak untuk mengikuti workshop khusus pada tanggal 20 Juni 2026 yang mengupas tuntas taktik jitu meloloskan diri dari penilaian juri.
Zita menegaskan bahwa kualitas vokal anak-anak asli Yogyakarta sebenarnya sangat mumpuni, bahkan tim juri pusat menjadikan proses penyaringan di wilayah ini sebagai standar acuan nasional. Sejak tahun 2017, Daerah Istimewa Yogyakarta tidak pernah absen mengirimkan formasi lengkap empat jenis suara yaitu Sopran, Alto, Tenor, dan Bass ke tingkat nasional.
"Kalau untuk kualitas, bagus. Ini diakui oleh juri pusat di tahun kemarin, bahwa kualitas yang ada di DIY ini cukup berada di atas rata-rata. Jadi seleksi yang ada di DIY ini menjadi patokan juga untuk teman-teman di provinsi lain. Karena kalau di provinsi lain kemungkinan seleksinya terbatas dan yang diujikan juga terbatas. Tetapi di sini seleksinya lebih kompleks. Jadi memang perlu ada sosialisasi info tambahan supaya peserta ini tidak kaget. Karena tesnya tidak hanya sekadar bisa bernyanyi, tapi dia juga harus tahu prima vista, solfegio, dan segala macam," jelas Zita.
Kompleksitas ujian ini juga diakui oleh salah satu dewan juri daerah dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Pancasona Adji. Menurutnya, kegagalan para peserta di atas panggung sering kali bukan karena kurangnya kemampuan musikal, melainkan akibat faktor demam panggung yang mengacaukan konsentrasi. Melalui pembekalan yang matang, aspek mental ini diharapkan dapat teratasi dengan baik.
"Aspek penilaian meliputi kualitas materi suara, teknik vokal, interpretasi, kepatuhan terhadap partitur, serta kemampuan membaca notasi musik.
Mayoritas sudah menyiapkan, tapi setelah maju jadi grogi, akhirnya tidak bisa menunjukkan kemampuan. Untuk itu kesiapan harus benar-benar 100 persen agar kapasitas dan bakat bisa keluar sepenuhnya," kata Adji yang menjadi juri bersama Linda Sitinjak, Drijastuti Jogjaningrum, Retno Pujiwati, dan satu perwakilan juri pusat pada Jumat, 29 Mei 2026.
Program yang didanai penuh oleh Dana Keistimewaan ini mengusung tema Menjaring Talenta Muda DIY untuk Menggema di Istana Merdeka. Penjaringan ini membuka kesempatan bagi warga lokal berusia 16 hingga 23 tahun dan belum menikah untuk merebut posisi utama agar bisa tampil pada Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta.
Pendaftaran daring sendiri difasilitasi melalui tautan s.id/daftarGBNDIY2026 hingga tanggal 6 Juli 2026. Rangkaian seleksi kemudian akan dilanjutkan dengan tes pengambilan nada dasar pada 9 Juli 2026 dan ditutup dengan audisi utama pada 10 Juli 2026. Untuk memotivasi para peserta, panitia juga menyediakan total uang pembinaan senilai Rp62.000.000 beserta plakat dan piagam, dengan rincian hadiah per kategori suara mulai dari Rp5.000.000 bagi Juara I hingga Rp1.500.000 untuk Juara V.
