-->
Liong Istimewa Buka Pekan Budaya Tionghoa Yogya
Liong Istimewa Buka Pekan Budaya Tionghoa Yogya

Liong Istimewa Buka Pekan Budaya Tionghoa Yogya

JOGJAGRID.COM : Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta atau PBTY ke 15 yang menjadi perhelatan untuk merayakan Tahun Baru Imlek 2571 resmi dibuka di Yogyakarta Minggu petang 2 Februari 2020.

Seremoni perhelatan ini membuat kawasan jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer ditutup dari kendaraan bermotor untuk gelaran karnaval meriah bertajuk Malioboro Imlek Carnival yang dimulai dari pukul 18.00 – 22.00 WIB.

Meski Yogya pada siang hingga sore   diguyur hujan deras dan membuat malam menjadi cukup dingin, toh tak menyurutkan ribuan masyarakat tumpah ke Malioboro. 

Mereka menyemut dengan penuh semangat menyaksikan karnaval pembukaan PBTY yang penuh warna dan padat atraksi itu.

Kepolisian Resort Kota Yogyakarta pun menutup ruas ruas jalan di sepanjang Malioboro juga akses ke Titik Nol Kilometer yang jadi pusat perhelatan karnaval itu.

Dalam karnaval yang dihadiri Wakil Gubernur DIY Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam X itu warga tak henti dihibur beragam atraksi. Mulai liong tradisional, barongsai, pertunjukkan wushu, marching band hingga tari reog.

Namun yang paling menarik dari pembukaan event itu tentu saja riuhnya kampung pecinan Ketandan, yang ada di ruas jalan Malioboro.

Kampung yang pada hari biasa relatif  ramai saat siang, malam itu berjubel ribuan warga dan wisatawan. 

Sepanjang menyusuri kampung yang kesehariannya menjadi kampung dagang terpadat yang diapit Pasar Beringharjo di sisi selatan dan Komplek Kepatihan di sisi utara, tak sejengkal pun jalan di kampunh itu kosong dari stand kuliner. 

Tak hanya menu khas peranakan Tionghoa, tapi jajanan dan masakan Korea hingga Betawi pun ada. Tahun ini PBTY menyediakan lebih dari 140 stand kuliner di perhelatannya.

Puas jajan, beragam hiburan pun tak absen di kampung itu. Lagu lagu berbahasa mandarin terus menyertai di sela harumnya aroma masakan dan jajanan yang berderet di pinggir jalan kampung itu. Sedangkan di ujung timur, pertunjukan Wayang Potehi seolah hidup dengan kerumunan pecintanya sendiri.

Sedikit beda dengan tahun lalu, kampung Ketandan kali ini bersolek  menyeluruh. 

Hal itu tampak salah satunya dari tiap akses menuju kampung itu baik dari arah timur, barat, utara dan selatan diberi atribut  ucapan selamat datang dan sentuhan bernuansa imlek. 

Pengunjung yang tak bisa melewati gerbang utama Ketandan di sisi barat atau dari Malioboro pun tak merasa masuk kampung Ketandan dari jalur belakang.

Ketua Umum PBTY ke-15 Tri Kirana Muslidatun mengatakan pagelaran PBTY dihelat sebagai satu penanda hidup suburnya keberagaman di Yogyakarta dengan penuh guyup, rukun dan harmonis.

"Sesuai tema 'The Cultural Color of Wonderful Indonesia', event kali ini neneguhkan lagi semangat  kebersamaan di Yogyakarta yang guyub, rukun, harmonis penuh warna ," ujar Tri.

Tri memastikan walaupun event ini bertajuk pekan budaya Tionghoa, namun tak pernah hanya menjadi tempat perayaan budaya Tionghoa saja. Namun juga berbagai kebudayaan yang hidup di nusantara.

"Event ini ingin memberi edukasi  tentang budaya Tionghoa yang menjadi bagian budaya di nusantara. Sekaligus meneguhkan semangat Yogya sebagai city of tolerance," ujarnya.

Wakil Gubernur DIY Pakualam X mengatakan PBTY memiliki nilai strategis dalam mendukung upaya pembangunan khususnya bidang kemasyarakatan dan budaya, serta bidang perekonomian dan pariwisata.

Ia berharap dengan perayaan PBTY dapat memberi dampak pada perekonomian masyarakat, sehingga dapat mengurangi kesenjangan ekonomi di DIY.

"Setiap pekan budaya hendaknya selalu diusahakan sebagai media integrasi sosial budaya dalam perspektif ekonomi. Semoga event ini bisa meluas dan berkontribusi mengurangi kesenjangan sosial ekonomi yang ada," ujar Paku Alam.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo sebelumnya mengatakan
PBTY ini bisa tetap menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Yogyakarta. 

Meski dari Januari sampai Maret merupakan masa low season kunjungan turis ke Yogyakarta ditambah belakangan muncul wabah virus corona China namun ia optimis event ini bisa jadi pendongkrak.

"Low season itu tidak banyak turis yang datang, tapi pasti ada juga yang sudah sampai Yogyakarta,” ujarnnya. (Nina)
Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Silakan ikuti kami di media sosial berikut.