Teruskan Perjuangan Ayah, Bangun Sutoto Bertekad Cerdaskan Warga
Teruskan Perjuangan Ayah, Bangun Sutoto Bertekad Cerdaskan Warga

Teruskan Perjuangan Ayah, Bangun Sutoto Bertekad Cerdaskan Warga

JOGJAGRID.COM : Ingin memberikan  pengabdian total  untuk tanah kelahiran adalah sesuatu yang saat ini sangat langka dilakukan para pemuda, apalagi yang telah menempuh perguruan tinggi terkenal di kota.

Tapi hal ini tidak terjadi pada sosok lelaki kelahiran desa Sidoagung, Tempuran , Kabupaten magelang 41 tahun silam ini. Bangun Sutoto, Lelaki lulusan Ilmu Pemerintahan, Fakuktas Ilmu Social dan Ilmu Politik ini lebih tertarik untuk mengabdikan segala ilmunya untuk membangun desa tercinta , terutama dalam bidang pendidikan.


Salah satu keterlibatannnya adalah aktif dalam merancang dan merumuskan konsep pendidikan sekolah aman bencana.
Sadar wilayahnya adalah wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi baik bencana alam maupun bencana akibat aktifitas manusia, Bangun tergerak hati untuk menjadi bagian aktif dalam program ini.

"Wilayah desa saya adalah wilayah rawan gempa vulkanik gunung merapi, puting beliung dan banjir lahar dingin merapi, sedangkan bencana akibat aktifitas manuasia adalah bahaya bencana kebakaran dan polusi udara karena banyaknya pabrik yang berada di sekitaran permukiman," ujar Bangun (19/11/2019).

Terlahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang guru terkenal di daerahnya, Bangun ingin meneruskan cita cita almarhum yang ingin mencerdaskan kehidupan masyarakat desa.

"Jika masyarakat cerdas dalam hal apapun maka kemajuan desa akan segera terwujud. Termasuk dalam hal mencerdaskan masyarakat untuk selalu mengenali lingkungannya baik potensi maupun bahayanya," bebernya.

Selain aktif dalam satuan Pendidikan Aman Bencana  Kabupaten Magelang , Bangun juga aktif menjadi aktivis lingkungan terutama dalam hal pengawasan pabrik pabrik yang diindikasikan melakukan pencemaran lingkungan.

Dirinya selalu melakukan pemantauan dan memberikan laporan terkait dengan aktifitas pabrik. Dia berharap kehadiran pabrik pabrik di daerahnya itu membawa kemanfaatan bagi masyarakat desa bukan menjadi malapetakan  bagi desa. Setiap pabrik yang akan dan sudah beroperasi harus tetap mengikuti prosedur pemerikasaan AMDAL.

Bangun merumuskan Sekolah Aman Bencana dengan tiga pilar utama. Menurutnya sekolah adalah tempat bagi generasi masa depan merajut cita - cita, maka sekolah harus dirancang seaman mungkin.

Kesadaran ini penting dibangun oleh pelaku pendidikan, karena bencana kadang datang tidak dapat diduga. Ada tiga pilar utama untuk membentuk sekolah aman bencana. Pilar pertama fasilitas aman bencana. Data menunjukkan banyak fasilitas sekolah yang rentan terhadap bencana, Sekolah dibangun tanpa mempertimbangkan faktor keamanan terhadap bencana. Ketika sekolah sudah berdiri seperti sekarang ini untuk melakukan perbaikan gedung tentu memakan dana yang tidak sedikit. Karenanya yang bisa dilakukan adalah memperbaiki hal - hal kecil seperti meja kursi yang aman, tempat almari, pintu dan lain - lain agar anak - anak aman dalam bersekolah.

Pilar kedua manajemen sekolah aman bencana. Sekolah adalah tempat terlama setelah rumah bagi anak - anak menghabiskan waktu. Ketika terjadi bencana dan mereka berada di sekolah maka menjadi tanggung jawab sekolah untuk melakukan penyelamatan. Karenanya kepala sekolah, guru dan warga sekolah harus paham apa yang harus dilakukan.

"Harus mulai disusun panduan - panduan atau SOP oleh sekolah untuk melakukan sosialisasi hingga melakukan kegiatan simulasi secara berkala. Manajemen sekolah aman bencana pada akhirnya dapat menjadi budaya dan membentuk karakter warga sekolah dalam menghadapi bencana," ujarnya.

Pilar ketiga kurikulum. Pendidikan pengurangan risiko bencana di sekolah sudah selayaknya masuk dalam kurikulum pembelajaran di kelas, tentu tidak dengan memunculkan mata pelajaran baru, akan tetapi terintegrasi melalui mata pelajaran yang sudah ada.

Misalkan mata pelajaran IPS, IPA, Agama dan mata pelajaran yang lainnya. Guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebencanaan agar mampu mengkaitkan mata pelajaran yang diajarkan dengan kejadian bencana. Pengintegrasian pemahaman kebencanaan ke dalam mata pelajaran penting agar siswa tidak terbebani dengan materi baru. (Adi Wicaksono)
Advertisement banner

Baca juga:

Admin
Silakan ikuti kami di media sosial berikut.