ESB Unjuk Gigi di JIFHEX 2026, Tawarkan Integrasi Sistem Bagi Industri Horeca Jogja
ESB Unjuk Gigi di JIFHEX 2026, Tawarkan Integrasi Sistem Bagi Industri Horeca Jogja

ESB Unjuk Gigi di JIFHEX 2026, Tawarkan Integrasi Sistem Bagi Industri Horeca Jogja

JOGJAGRID.COM — Perhelatan Jogja International Food & Horeca Expo (JIFHEX) 2026 yang berlangsung pada 28 hingga 30 Agustus 2026 di Jogja Expo Center (JEC) menjadi panggung bagi PT Esensi Solusi Buana (ESB) untuk memperkuat posisinya sebagai penyedia teknologi bisnis kuliner. Langkah ini diambil di tengah lesatan sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 10,56 persen pada triwulan II-2026 berdasarkan data BPS DIY.

​Pameran industri makanan, minuman, dan perhotelan terbesar di Jawa Tengah dan sekitarnya tersebut dimanfaatkan ESB untuk menjawab makin kompleksnya tantangan operasional yang dihadapi para pelaku usaha kuliner lokal. Integrasi data transaksi, manajemen bahan baku, hingga efisiensi saluran penjualan menjadi fokus utama yang disoroti perseroan dalam ajang tahunan ini.

​CEO & Co-Founder ESB, Gunawan Woen, menegaskan bahwa tingginya dinamika pasar di Yogyakarta memerlukan pendekatan manajemen yang jauh lebih terstruktur dan berbasis data.

​“Yogyakarta adalah contoh menarik. Aktivitas bisnis kuliner dan hospitality terus bergerak, tetapi pertumbuhan juga membuat kompleksitas operasional semakin besar. Pengusaha tidak cukup hanya mengejar penjualan. Mereka perlu mengetahui outlet mana yang sehat, menu mana yang menguntungkan, bagaimana kondisi stok, dan apakah strategi promosi benar-benar memberikan dampak terhadap bisnis,” papar Gunawan Woen.

​Kebutuhan akan pengelolaan terpadu ini makin mendesak seiring pesatnya belanja kuliner via platform digital. Estimasi Momentum Works menunjukkan transaksi pemesanan makanan online di Indonesia menembus US$6,4 miliar pada 2025, naik 18 persen dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, riset Populix terhadap Gen Z dan milenial menunjukkan faktor harga dan promo tetap menjadi pertimbangan paling dominan, yang menuntut pengusaha mengelola diskon secara lebih presisi agar tidak menggerus keuntungan.

​Selain urusan pasar, efisiensi bahan baku juga menjadi perhatian serius mengingat estimasi Bappenas terkait angka food loss and waste nasional yang mencapai Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun. Dalam hal ini, skema pencatatan stok dan perhitungan HPP yang ketat menjadi kunci untuk menekan potensi kerugian material di dapur bisnis.

​Di JIFHEX 2026, ESB memamerkan ekosistem teknologinya secara utuh, mulai dari ESB POS untuk kasir dan integrasi pesanan online, ESB Order untuk pemesanan digital, hingga ESB Core sebagai sistem ERP untuk pengelolaan persediaan, produksi, serta laporan keuangan back office.

​Gunawan menyoroti pentingnya menghubungkan seluruh saluran operasional tersebut dalam satu platform yang terpusat.

​“Tujuan kami bukan sekadar menyediakan aplikasi kasir restoran atau software untuk mencatat transaksi. Tantangan bisnis kuliner hari ini saling terhubung, sehingga sistemnya juga perlu saling terhubung. Ketika data penjualan, pesanan, stok, produksi, dan keuangan masih berjalan sendiri-sendiri, pemilik bisnis akan semakin sulit melihat kondisi operasional secara menyeluruh,” tegas Gunawan.

​Kehadiran stan ESB di pameran JIFHEX 2026 memberikan kesempatan bagi para pelaku bisnis kuliner lintas skala untuk berdiskusi langsung serta menyaksikan simulasi integrasi sistem operasional secara mendalam.

​“Partisipasi kami di JIFHEX merupakan bagian dari komitmen ESB untuk mendukung digitalisasi bisnis kuliner di berbagai daerah. Kami ingin pelaku usaha, mulai dari bisnis yang sedang berkembang hingga jaringan multi-outlet, dapat memiliki akses terhadap sistem yang membantu operasional mereka menjadi lebih terintegrasi, terukur, dan mudah dikendalikan,” tutup Gunawan.

Advertisement banner

Baca juga:

Admin
Silakan ikuti kami di media sosial berikut.